Senin, 30 Januari 2012
Bibit Lele Sangkuriang
Bibit lele sangkuriang adalah bibit lele unggulan, itulah predikat yang disandang oleh primadona lele pada saat ini, namun sangat disayangkan jika prestasi luar biasa hasil karya anak bangsa ini belum bisa dirasakan kesuksesannya oleh sebagian para petani ikan lele, terbukti masih banyak para pelaku ternak lele yang pada kenyataannya masih sulit mendapatkan bibit lele sangkuriang atau indukan lele sangkuriang yang terjamin dan berkualitas.
Permasalahan tersebut bukan hanya meliputi para petani pada segmen pembenihan saja yang memang sangat membutuhkan indukan untuk menghasilkan bibit lele sangkuriang unggulan, imbasnya juga dirasakan oleh para petani pembesaran lele, karena kedua sektor ini memang saling terkait erat dalam usaha ternak lele.
Jika pada segmen pembenihan para petani mengeluhkan sedikitnya produksi dan daya tetas telur, pada segmen pembesaran para petani sering dipusingkan dengan lambatnya pertumbuhan benih, sehingga membengkaknya biaya produksi, padahal mereka mengaku sudah menggunakan indukan lele sangkuriang dan bibit lele sangkuriang.
Selain dari faktor indukan atau bibit lele sangkuriang yang berkualitas, tentunya teknologi pembudidayaan lele sangkuriang juga menjadi faktor pendukung yang sangat penting guna mencapai keberhasilan produksi lele yang ditargetkan.
Jika permasalahan timbul dari segi indukan atau bibit lele sangkuriang, maka sangat disayangkan apabila ada oknum-oknum tertentu yang mengambil keuntungan dari kesuksesan dan keunggulan lele sangkuriang, dalam masalah ini, bisa saja mereka menjual lele yang tidak jelas dengan nama indukan atau bibit lele sangkuriang, hal ini bisa jadi karena faktor sosialisasi atau sistem pengadaan lele sangkuriang masih sangat kurang dari pihak pemerintah, khususnya BBPBAT maupun pihak-pihak yang terkait secara resmi dalam pengadaan indukan atau bibit lele sangkuriang. JIka sudah demikian, lagi-lagi yang dirugikan adalah para petani atau para pelaku usaha ternak lele.
Untuk kedepannya sangat diharapkan bagi pihak-pihak yang terkait resmi dalam masalah pengadaan indukan dan bibit lele sangkuriang dapat menginformasikan lebih jelas tentang teknologi pembudidayaan maupun pengadaan bibit lele sangkuriang kepada para pelaku usaha ternak lele, khususnya bagi mereka yang baru memulai, atau bekerja sama dengan media-media terkait, seperti situs-situs internet yang memang berkompeten pada ternak & budidaya lele.
Sinergi harmonis oleh pihak-pihak yang terkait dalam usaha budidaya lele diharapkan mampu membuat system yang telah baik menjadi lebih baik lagi, sehingga para petani dan pengusaha ternak lele mampu meningkatkan hasil produksi dan dapat memenuhi target pemerintah untuk memenuhi kebutuhan pangsa pasar lele konsumsi yang terus meningkat, selain itu, jika kesuksesan lele sangkuriang sudah dapat dirasakan oleh banyak pihak, tentunya ini juga akan membawa kebanggaan tersendiri untuk para innovator-inovator jenius yang telah melahirkan indukan dan bibit lele sangkuriang, sehingga mereka dapat lebih terpacu dan bersemangat lagi membuat sesuatu yang lebih hebat lagi, tidak menutup kemungkinan dari tangan-tangan mereka akan lahir kembali strain-strain unggulan atau Sangkuriang Super yang lebih dasyat.
Syarat Lokasi Ternak Lele
Memahami syarat Lokasi ternak lele merupakan langkah awal yang harus diperhatikan, ikan lele memang termasuk jenis ikan yang mempunyai toleransi yang cukup tinggi terhadap lingkungan, namun demikian bukan berarti kita boleh menganggap remeh masalah persyaratan lokasi ternak lele. Dengan mengetahui lebih jelas persyaratan apa saja yang harus dipenuhi, diharapkan para peternak lele mampu mengembangkan usahanya lebih optimal sehingga berhasil memenuhi target yang diharapkan, baik dalam segmen pembesaran maupun segmen pengadaan benih atau bibit lele, adapun beberapa syarat lokasi ternak atau budidaya lele yang harus diperhatikan adalah :
~ Memperhatikan jenis tanah, tanah yang baik untuk kolam lele adalah tanah yang berjenis lempung atau tanah liat, mengandung lumpur, tidak berporos dan memiliki kesuburan yang baik. Contoh lokasi yang cocok untuk ternak lele adalah persawahan, namun bisa juga membuat kolam lele di pekarangan rumah, di kebun atau di tempat lain yang tanahnya dapat memenuhi syarat lokasi ternak lele. Perlu diketahui, daerah yang baik untuk perkembangan dan pemeliharaan lele adalah dataran rendah hingga daerah yang memiliki ketinggian 700 m dpl. Lokasi ternak lele yang kita buat juga sebaiknya berdekatan dengan sumber air, perhatikan juga elevasi tanah antara permukaan kolam dan sumber air adalah 5-10 %, carilah lokasi yang jauh dari jalan raya, tempat yang teduh sangat baik untuk ikan lele, namun jangan menempatkan kolam lele di bawah pepohonan yang daunnya mudah berguguran serta hindari lokasi ternak lele yang rawan banjir. Di daerah yang memiliki suhu 200 C ikan lele bisa hidup, namun suhu optimal untuk lele antara 250-280C. Untuk pertumbuhan larva lele, suhu yang diperlukan adalah 260-300C dan suhu yang baik untuk proses pemijahan adalah 240-280C.
~ Lokasi yang memiliki kondisi air yang agak tenang dan memiliki kedalaman yang cukup juga merupakan salah satu syarat lokasi ternak lele yang harus diperhatikan, PH air yang baik untuk lele adalah 6,5-9, kesadahan maksimal 100 ppm dan optimal pada kisaran 50 ppm, tingkat kekeruhan (turbidity) 30-60 cm, kekeruhan yang dimaksud bukanlah kekeruhan lumpur. Kebutuhan oksigen optimal ikan lele dari 0,3 ppm untuk lele dewasa sampai jenuh untuk lele ukuran burayak, hal inilah yang membuat ikan lele dapat hidup meskipun dalam kondisi air yang keruh dan kurang baik serta kurang kadar oksigennya, selama air tersebut tidak tercemar oleh zat kimia atau zat yang mematikan lainnya. Permukaan air kolam juga harus dijaga, jangan sampai ditutupi oleh material-material yang merugikan seperti sampah atau tumbuhan eceng gondok.
Demikianlah informasi dasar mengenai Syarat lokasi ternak lele, semoga bisa dijadikan tambahan atau pelengkap sehingga dapat menunjang dan disesuaikan dalam teori dan penerapan, salam.
Bibit Lele
Menyiapkan bibit lele adalah hal sangat penting dalam usaha ternak dan budidaya lele, khususnya yang berorientasi pada segmen pembesaran, karena jika kita tidak bisa mengenali jenis atau kualitas bibit lele yang baik, proses pembesaran bibit lele yang kita laksanakan akan banyak menemui kendala sehingga akan menghambat produksi dan panen yang kita inginkan. Untuk mendapatkan bibit lele yang baik sebaiknya para pengusaha ternak lele harus memperhatikan beberapa hal :
a. Tempat Pembelian Bibit Lele
Belilah bibit lele pada tempat-tempat yang terpercaya dan sudah terjamin kredibilitasnya sebagai pembudidaya ikan lele, tempat budidaya dan ternak lele yang baik biasanya tidak hanya sekedar menjual bibit lele, selain mendapatkan garansi kepercayaan, kita juga bisa memperoleh informasi penting seputar budidaya lele khususnya tata cara perawatan bibit lele yang baik dan benar, atau dengan kata lain kita bisa berkonsultasi seputar permasalahan dan cara bagaimana menghadapi kendala-kendala yang biasa terjadi dalam proses pembesaran bibit lele.
b. Jenis dan Kualitas Indukan Bibit Lele
Bibit lele yang berkualitas biasanya hanya bisa dihasilkan dari indukan lele yang jenis dan kualitasnya terjamin, jadi jangan sungkan untuk menanyakan kepada penjual bibit lele yang akan anda beli tentang jenis dan kualitas indukan yang mereka gunakan, selain itu perhatikan juga metode pemijahan yang mereka lakukan, belilah bibit lele yang dihasilkan dari indukan yang dipijahkan dengan cara alami karena telah terbukti lebih aman dan berkualitas hasilnya. Selain pentingnya tata cara dan perawatan ikan lele, faktor genetika juga sangat berpengaruh besar dalam pertumbuhan dan daya tahan bibit lele yang akan kita budidayakan, sehingga wajib bagi kita untuk mengetahui jenis dan kualitas indukan bibit lele yang akan kita budidayakan.
c. Kesehatan Bibit Lele
Faktor kesehatan merupakan hal yang sangat penting dalam memilih bibit lele, meskipun bibit lele dihasilkan dari indukan lele yang berkualitas terkadang tata cara pemijahan dan perawatan benih pasca penetasan yang tidak baik mengakibatkan turunnya kualitas bibit lele, jadi untuk mudahnya, untuk langkah awal usahakan memilih bibit lele yang memiliki bentuk tubuh proporsional, tidak kurus dan hanya kepalanya saja yang besar, berdasarkan pengalaman dari beberapa pembudidaya dan ternak ikan lele, bibit lele yang kurus dan hanya besar kepalanya saja pertumbuhannya akan lambat, penyebabnya bisa karena penyakit atau ada beberapa pendapat yang menyatakan ciri-ciri bibit lele seperti ini biasanya berjenis kelamin jantan dan pertumbuhannya lebih lama dari bibit lele betina, hal ini sudah tentu sangat merugikan bagi para pengusaha ternak lele, selain produksi yang lambat biaya pakan juga akan lebih besar. Selain itu pilihah bibit lele yang terlihat aktif dan agresif saat diberi makan. Semoga bermanfaat, salam sukses…
Penanggulangan Penyakit Lele
Bermacam penyakit lele sering kali membuat pusing para pengusaha budidaya lele, baik yang berkecimpung di segmen pembenihan maupun pada segmen pembesaran, bahkan tidak jarang penyakit yang menyerang lele berujung pada kematian sehingga mengakibatkan kerugian besar bagi para pengusaha ternak lele, penyakit lele bisa diakibatkan dari bermacam faktor, baik karena faktor alam maupun dari kesalahan tata cara pembudidayaan.
Banyak cara yang bisa dilakukan dalam hal penggulangan penyakit lele, diantaranya dengan menggunakan bahan-bahan yang sudah tersedia di alam atau disekitar lingkungan kita, selain lebih murah dan mudah didapat, pengobatan penyakit lele dengan bahan-bahan alami relatif lebih aman, baik untuk lele maupun untuk lingkungan sekitar.
Contoh penanggulangan penyakit lele dengan bahan alami yang sudah dilakukan oleh beberapa pembudidaya ikan lele :
1. Radang usus, penyakit lele ini biasanya menunjukkan gejala lele akan terlihat berdiri tegak dan bagian kumisnya menyembul di permukaan air, beberapa pembudidaya menyebutnya seperti tiang listrik, jika ikan lele rekan-rekan pembudidaya mengalami penyakit lele seperti ini, penanggulangannya bisa dengan cara menggunakan buah mengkudu yang sudah masak/mateng, caranya mudah, ambil buah mengkudu yang sudah masak lalu masukkan pada kolam lele yang sakit, untuk ukurannya disesuaikan saja dengan besaran kolam, misalnya untuk kolam ukuran 2×4 cukup dengan 1 atau 2 buah mengkudu.
2. Radang Insang, penyakit lele seperti ini biasanya menunjukkan ciri insang lele yang memerah. Penanggulangan penyakit lele seperti ini bisa dengan cara menggunakkan daun sirih dan daun pepaya. Caranya, ambil 10 lembar daun sirih dan 10 lembar daun pepaya segar, lalu rebus dengan 1 liter air (1gayung) biarkan mendidih sampai air sat/susut menjadi tinggal 1 gelas. Setelah itu larutkan hasil rebusan air yang 1 gelas tadi dengan 10 gelas air bersih, hasil campuran inilah yang bisa digunakan, tebarkan larutan ini secukupnya pada permukaan air kolam yang terkena penyakit, dosis harus disesuaikan dengan luas kolam.
3. Asam lambung, lele yang terkena penyakit ini biasanya akan terlihat kembung karena berisi gas/angin dan cairan, untuk penyakit ini penanggulangannya bisa dengan cara seperti penanggulangan pada penyakit radang insang.
4. Penyakit jamur/radang kulit, biasanya pada kulit lele akan terlihat bercak-bercak putih, atau jika yang sudah parah kulitnya seperti terkelupas, untuk penyakit lele jenis ini, penanggulangannya bisa dengan ramuan seperti pada penanggulangan pada penyakit radang insang (no.2) hanya saja agar khasiat ramuan lebih efektif, sebaiknya ikan lele yang sakit direndam dalam baskom yang telah diisi dengan ramuan tersebut. jika jumlah ikan lele yang sakit banyak, penanggulangan penyakit lele bisa dengan cara seperti di bawah ini :
a. Kuras air kolam 50%
b. Siapkan baskom/wadah yang bisa menampung jumlah ikan yang akan diobati, isi dengan ramuan daun pepaya dan daun sirih (yang telah dicampur dengan air bersih 10:1)
c. Masukan ikan lele kedalam baskom/wadah, waktunya disesuaikan saja, jangan terlalu lama, jika ikan lele terlihat sudah megap-megap, berarti sudah cukup.
d. Kembalikan ikan lele ke dalam kolam, tambahkan air kolam seperti volume awal, sebaiknya gunakan air yang berkualitas baik (Sudah dikompos atau air yang sudah melalui proses persiapan untuk air kolam).
e. Untuk membantu proses penyembuhan, boleh menebar cairan ramuan tersebut ke dalam kolam (cara no.2), ditambah dengan memasukan buah mengkudu yang sudah masak/mateng (cara no.1)
Ini hanyalah beberapa contoh cara penanggulangan penyakit lele dengan menggunakan bahan-bahan alami yang telah dilakukan oleh beberapa pembudidaya, jika para pembaca memiliki pendapat atau resep obat yang lain, silahkan dicoba dan jangan lupa sharing informasinya ke ternaklele.com semoga saja dapat menambah wawasan dan berguna untuk para petani dan pembudidaya lele.
Terima Kasih Banyak Untuk Kang Koko di Bogor atas Sharing informasinya mengenai konten artikel ini.
Kolam Lele
Mengenai pembuatan kolam lele memang banyak sekali cara yang bisa digunakan, hal tersebut dapat disesuaikan dengan lokasi, kebutuhan atau target produksi yang ingin diperoleh, adapun informasi yang akan disampaikan adalah gambaran umum tata cara pembuatan kolam dalam budidaya lele yang telah banyak digunakan.
Kolam lele untuk pemeliharaan disarankan jangan terlalu luas, gunanya agar kita lebih mudah dalam mengontrol dan mengawasi perkembangan dan keamanan kolam. Jika memiliki modal yang cukup, sebaiknya dinding dan dasar kolam dibuat permanen.
Dalam pemeliharaan lele, biasanya kolam ikan lele terbagi menjadi beberapa kategori, ada kolam yang khusus indukan, kolam pemijahan dan kolam untuk pembesaran. Biasanya kolam lele khusus indukan dipakai untuk merawat indukan lele sebelum dan sesudah pemijahan. Adapun dalam teori tradisional, kolam untuk indukan sekaligus dijadikan tempat tempat untuk pemijahan.
Metode pemijahan tradisional biasanya menggunakan kolam berupa tanah, namun ada juga yang menggunakan tembok pada bagian dindingnya sementara bagian dasar tetaplah tanah. Luas kolam lele untuk indukan juga bisa disesuaikan, namun agar indukan lele dapat hidup dengan baik biasanya luas kolam indukan tidak kurang dari 50m2. Kolam indukan dapat dibagi menjadi dua bagian, tujuh puluh persennya adalah bagian dangkal sementara tiga puluh persen lagi adalah bagian dalam atau sering disebut dengan kubangan, yang tempatnya ada di tengah kolam dan memiliki kedalaman sekitar 50-60cm, kubangan berguna sebagai tempat indukan bersembunyi pada saat air disurutkan.
Disetiap sisi-sisi kolam dibuat sarang untuk bertelur yang terbuat dari tembok berukuran 30x30x25cm3 dengan jarak antar sarang kurang lebih 1m, setiap sarang diberikan lubang masuk untuk induk lele, lubang tersebut biasanya menggunakan pipa PVC 4”. Pada dasar sarang dibuat saluran dari pipa PVC 1” yang berfungsi untuk keluarnya benih atau bibit lele menuju kolam pendederan. Kolam lele untuk pemijahan ini biasanya dilengkapi dengan kolam rotifera (Pakan alami ikan yang berupa cacing bersel tunggal). Kolam rotifera berukuran kurang lebih 10m2, terletak dibagian atas kolam yang berguna untuk menumbuhkan rotifera, kolam ini dihubungkan dengan kolam induk melalui saluran pipa. Agar rotifera dapat tumbuh dengan baik, kolam rotifera sebaiknya diberikan pupuk organik.
Pemijahan dapat juga dilakukan dengan cara berpasangan, kolam lele untuk pemijahan berpasangan biasanya menggunakan kolam semen berukuran 1x1x0,6m atau 1x2x0,6m. Di dalam kolam dilengkapi dengan sarang yang terbuat dari kayu berukuran 25x40x30cm, kotak sarang ini tidak diberi dasar, namun pada bagian atas diberikan lubang dan tutup agar kita dapat melihat jika ada telur di dalam sarang, kotak sarang diberikan ijuk dan kerikil agar ikan yang memijah dapat meletakan telur. Disarankan pada bagian depan kotak sarang diletakan tanaman eceng gondok untuk memberikan efek gelap terhadap sarang.
Metode lainnya adalah pemijahan masal, untuk kolam lele pemijahan masal biasanya menggunakan kolam semen antara 20m2 (2x10m) s/d 50m2 (5x10m), pada sisi luar bagian kolam dibuat bak sarang (menempel pada kolam induk) berukuran 30x30x30cm, masing-masing sarang diberi lubang menggunakan pipa pvc 4” dan pipa PVC 1” untuk saluran benih, pada bagian dasar bak sarang diletakan ijuk dan kerikil untuk tempat telur ikan lele yang memijah.
Langkah selanjutnya adalah menyiapkan kolam pendederan, kolam lele untuk pendederan pada minggu pertama dan kedua biasanya berukuran 200x50x50cm, untuk mengantisipasi agar tubuh benih lele tidak terluka pada saat bergesekan dengan dinding kolam, sebaiknya dinding kolam dihaluskan dan dibuat lurus. Dasar kolam dibuat miring, dasar kolam di daerah tempat masuk air lebih tinggi + 3cm dari daerah pembuangan air, di dasar kolam diletakan pipa PVC 3”-5” dengan panjang 10m. Pada tempat pengeluaran air dipasang saringan sejajar dengan permukaan kolam bagian dalam, saringan tersebut dijepit dengan 2 buah bingkai kayu, diantara bingkai tersebut dipasang kawat nyamuk yang terbuat dari plastik berukuran 0,5-0,7mm.
Pada kolam pendederan harus dilengkapi dengan pipa untuk memasukan air dan pipa untuk mengeringkan kolam, pipa pengeringan terhubung dengan pipa plastik pengatur ketinggian air kolam. Pada saat memasuki minggu ketiga benih dapat dipindahkan ke kolam pendederan selanjutnya yang berukuran 200x100x50cm, usahakan pada prosesi pemindahan benih tidak menggunakan jaring, aturlah ketinggian pipa plastik yang sudah terpasang, adapun konstruksi lain kolam lele pada minggu ketiga sama dengan kolam pada minggu pertama dan kedua. Para pengusaha ternak lele sebaiknya melakukan penyortiran sebelum memasukan benih atau bibit lele pada kolam berikutnya, tempatkan benih lele yang berukuran sama dan sesuaikan dengan kepadatan tebar, Selamat mencoba.
Langganan:
Postingan (Atom)


