Jumat, 23 Maret 2012

Teknik Pembesaran Lobster Air Tawar

Teknik Pembesaran Lobster Air Tawar Post under teknologi pertanian | Rabu, Agustus 27, 2008 Oleh Dede Suhaya HIDANGAN lobster laut di restoran seporsinya bisa dihargai Rp 500.000 hingga Rp 1 juta, sementara lobster air tawar paling murah Rp 50.000 per porsinya. Terbentuknya harga yang tinggi ini, sudah pasti karena demand yang tinggi sementara supply-nya seret. Tak pelak lagi lobster menjadi hidangan yang mewah, mahal, dan eksklusif. Siapapun pasti tertarik terjun di bisnis ini? Secara umum, lobster laut maupun lobster air tawar sama saja, lagi pula asalnya sama-sama dari laut. Hanya saja lobster air tawar lebih rendah kadar kolesterolnya dan kandungan Omega3-nya lebih tinggi. Keistimewaan lainnya, lobster air tawar gampang beradaptasi sehingga lebih mudah dibudidayakan. Bisa dipelihara di akuarium, di kolam, bak mandi, bahkan di kolam-kolam. Dibandingkan dengan beternak gurame, lele, atau ikan mas, menurut beberapa praktisi, beternak lobster air tawar dianggap sangat menguntungkan. Laba yang diraup bisa jauh lebih besar. Bandingkan saja, bila membesarkan gurame butuh waktu 1 - 1,5 tahun untuk bisa dijual seharga Rp 18.000-Rp 20.000 per kg. Sedangkan lobster air tawar dengan waktu pembesaran yang sama dapat dijual dengan harga Rp 250.000 per kg. Pertumbuhan lobster air tawar bisa diatur sesuai keinginan peternak, juga dapat dibesarkan dalam waktu relatif lebih singkat dibandingkan pembesaran secara alamiah. Beberapa teknik pembesaran lobster air tawar banyak dikembangkan para peternak dalam maupun luar negeri. Dengan teknik-teknik ini, waktu pembesaran bisa dipacu lebih singkat lagi hingga 4,5 bulan. Sekadar pengetahuan, beberapa teknik pembesaran lobster diuraikan secara singkat di bawah ini (untuk ukuran kolam besar). Untuk pembesaran lobster, seleksi benih sangatlah penting. Calon benih harus bongsor. Cirinya tubuh agak kekar dan sedikit lebih panjang. Hanya saja benih seperti itu sulit didapat. Dari setiap betina bertelur, hanya 10% saja yang terlihat bongsor setelah mencapai ukuran 5 cm. Pilihlah spesies lobster yang mudah dipelihara dan cepat pertumbuhannya, misalnya yang sedang tren adalah jenis lobster Australia (Cherax quadricarinatus) yang terkenal dengan sebutan "si capit merah" (redclaw). Pembesaran lobster akan optimum bila dilakukan pada kolam tanah berukuran besar di atas 200 m2. Struktur tanah yang baik adalah campuran lempung dan sedikit berlumpur. Tanah berpasir tidak disarankan, karena air mudah menyerap. Sementara tanah liat menghambat proses penyerapan kotoran secara alami. Pemadatan tanah di awal pembangunan kolam mutlak dilakukan. Dinding kolam bisa dilapisi potongan bambu. Kolam bisa dipupuk dahulu agar sumber pakan alami melimpah. Kualitas air perlu dijaga dengan cara filterisasi. Sebenarnya memanfaatkan arus deras, bisa memajukan waktu panen hingga 30 hari. Sayangnya perlu sumber air dengan debit yang cukup besar. Pembesaran lobster dapat dilakukan di daerah bersuhu sekitar 24 - 26 derajat C. Dataran menengah di atas 600 m dpl berpotensi menghasilkan ukuran konsumsi lebih cepat. Ketersediaan oksigen terlarut bisa diperbesar dengan pemakaian kincir air. Untuk tempat berlindung lobster, beberapa petani di Australia memanfaatkan ban-ban bekas yang ditumpuk atau dibiarkan berserakan di dasar kolam. Jenis pakan juga sangat mempengaruhi cepat-lambatnya pertumbuhan lobster. Pemberian pakan pelet secara terus menerus membuat si capit merah akan tumbuh memanjang. Sebaliknya pemberian pakan alami membuat udang menjadi bongsor. Pelet dan pakan alami seperti cacing tanah dan keong mas bisa diberikan bergantian. Dosis pakan ini jumlahnya hingga 5% dari bobot tubuh/hari. Pertumbuhan lobster dari ukuran tebar 2 inci selama 2 bulan pertama akan mencapai sekitar 8 cm. Tiga bulan berikutnya panjang tubuh redclaw ini 15 cm. Bobot rata-rata akan mencapai 100 - 110 gram/ekor. Bila ruang gerak cukup, lobster akan lebih cepat besar, sehingga padat penebaran diatur pada 8 - 10 ekor/m2.

  Lobster Lembut Bersuara Jangkrik

 TIDAK seperti kebanyakan lobster yang memiliki cangkang dengan permukaan kasar serta berduri, lobster yang satu ini justru memiliki kulit yang lembut seperti kain wol bila diraba. Dan yang lebih menakjubkan lagi crustacea ini bisa mengeluarkan suara nyaring mirip jangkrik. Untuk pertama kalinya secara tidak sengaja, lobster langka ini tertangkap pancing kapal pukat komersial di perairan utara Queensland, Australia dari kedalaman 270 m. Untung saja ia ditemukan dalam keadaan hidup dan sehat. Kini hewan laut ini dipertontonkan di akuarium Reef HQ Townsville, yang dikelola Great Barrier Reef Marine Park Authority. Karena tidak biasanya ini, dengan cangkang seperti kain dan kemampuan untuk mencicit, para ilmuwan telah menempatkan pada genus tersendiri. Hewan ini nyaris hilang dalam khasanah ilmu pengetahuan. "Sungguh menyenangkan, karena biasanya bila anda mendapat spesies atau genus baru, mereka akan ditempatkan di musium atau diawetkan di dalam botol berisi alkohol," ujar general manager Reef HQ Patrick Filmer-Sankey, yang menggambarkan lobster ini sebagai 'binatang asing' seukuran kelinci." "Udang besar ini bisa mengeluarkan bunyi seperti jangkrik dengan cara menggesek-gesekkan bagian anatomi tertentu secara bersamaan, kemungkinan kaki-kaki bagian belakang," ungkapnya. Tidak jelas alasan lobster ini mengeluarkan suara, tetapi para ilmuwan memperkirakan sebagai tanda untuk kawin atau mempertahankan daerah kekuasaannya. Para ilmuwan kini memprediksi ada banyak makhluk mirip lobster ini di perairan Australia dan Pasifik. Suatu saat bisa spesies langka ini berhasil dibudidayakan, bisnis ikan hias akan semakin marak dengan munculnya jenis anyar ini, bahkan bukan tidak mungkin bakal muncul berbagai kontes lobster "berkicau" di kalangan peternak atau hobiis. (DS/sumber: www.abc.net.au)***

Kamis, 22 Maret 2012

Tahap Proses Budidaya

IV. Tahap Proses Budidaya. A. Pembuatan Kolam. Ada dua macam/tipe kolam, yaitu bak dan kubangan (kolam galian). Pemilihan tipe kolam tersebut sebaiknya disesuaikan dengan lahan yang tersedia. Secara teknis baik pada tipe bak maupun tipe galian, pembenihan lele harus mempunyai : Kolam tandon. Mendapatkan masukan air langsung dari luar/sumber air. Berfungsi untuk pengendapan lumpur, persediaan air, dan penumbuhan plankton. Kolam tandon ini merupakan sumber air untuk kolam yang lain. Kolam pemeliharaan induk. Induk jantan dan bertina selama masa pematangan telur dipelihara pada kolam tersendiri yang sekaligus sebagai tempat pematangan sel telur dan sel sperma. Kolam Pemijahan. Tempat perkawinan induk jantan dan betina. Pada kolam ini harus tersedia sarang pemijahan dari ijuk, batu bata, bambu dan lain-lain sebagai tempat hubungan induk jantan dan betina. Kolam Pendederan. Berfungsi untuk membesarkan anakan yang telah menetas dan telah berumur 3-4 hari. Pemindahan dilakukan pada umur tersebut karena anakan mulai memerlukan pakan, yang sebelumnya masih menggunakan cadangan kuning telur induk dalam saluran pencernaannya. B. Pemilihan Induk Induk jantan mempunyai tanda : - tulang kepala berbentuk pipih - warna lebih gelap - gerakannya lebih lincah - perut ramping tidak terlihat lebih besar daripada punggung - alat kelaminnya berbentuk runcing. Induk betina bertanda : - tulang kepala berbentuk cembung - warna badan lebih cerah - gerakan lamban - perut mengembang lebih besar daripada punggung alat kelamin berbentuk bulat. C. Persiapan Lahan. Proses pengolahan lahan (pada kolam tanah) meliputi : - Pengeringan. Untuk membersihkan kolam dan mematikan berbagai bibit penyakit. - Pengapuran. Dilakukan dengan kapur Dolomit atau Zeolit dosis 60 gr/m2 untuk mengembalikan keasaman tanah dan mematikan bibit penyakit yang tidak mati oleh pengeringan. - Perlakuan TON (Tambak Organik Nusantara). untuk menetralkan berbagai racun dan gas berbahaya hasil pembusukan bahan organik sisa budidaya sebelumnya dengan dosis 5 botol TON/ha atau 25 gr (2 sendok makan)/100m2. Penambahan pupuk kandang juga dapat dilakukan untuk menambah kesuburan lahan. - Pemasukan Air. Dilakukan secara bertahap, mula-mula setinggi 30 cm dan dibiarkan selama 3-4 hari untuk menumbuhkan plankton sebagai pakan alami lele. Pada tipe kolam berupa bak, persiapan kolam yang dapat dilakukan adalah : - Pembersihan bak dari kotoran/sisa pembenihan sebelumnya. - Penjemuran bak agar kering dan bibit penyakit mati. Pemasukan air fapat langsung penuh dan segera diberi perlakuan TON dengan dosis sama D. Pemijahan. Pemijahan adalah proses pertemuan induk jantan dan betina untuk mengeluarkan sel telur dan sel sperma. Tanda induk jantan siap kawin yaitu alat kelamin berwarna merah. Induk betina tandanya sel telur berwarna kuning (jika belum matang berwarna hijau). Sel telur yang telah dibuahi menempel pada sarang dan dalam waktu 24 jam akan menetas menjadi anakan lele. E. Pemindahan. Cara pemindahan : - kurangi air di sarang pemijahan sampai tinggi air 10-20 cm. - siapkan tempat penampungan dengan baskom atau ember yang diisi dengan air di sarang. - samakan suhu pada kedua kolam - pindahkan benih dari sarang ke wadah penampungan dengan cawan atau piring. - pindahkan benih dari penampungan ke kolam pendederan dengan hati-hati pada malam hari, karena masih rentan terhadap tingginya suhu air. F. Pendederan. Adalah pembesaran hingga berukuran siap jual, yaitu 5 - 7 cm, 7 - 9 cm dan 9 - 12 cm dengan harga berbeda. Kolam pendederan permukaannya diberi pelindung berupa enceng gondok atau penutup dari plastik untuk menghindari naiknya suhu air yang menyebabkan lele mudah stress. Pemberian pakan mulai dilakukan sejak anakan lele dipindahkan ke kolam pendederan ini. V. Manajemen Pakan. Pakan anakan lele berupa : - pakan alami berupa plankton, jentik-jentik, kutu air dan cacing kecil (paling baik) dikonsumsi pada umur di bawah 3 - 4 hari. - Pakan buatan untuk umur diatas 3 - 4 hari. Kandungan nutrisi harus tinggi, terutama kadar proteinnya. - Untuk menambah nutrisi pakan, setiap pemberian pakan buatan dicampur dengan POC NASA dengan dosis 1 - 2 cc/kg pakan (dicampur air secukupnya), untuk meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan tubuh karena mengandung berbagai unsur mineral penting, protein dan vitamin dalam jumlah yang optimal. VI. Manajemen Air. Ukuran kualitas air dapat dinilai secara fisik : - air harus bersih - berwarna hijau cerah - kecerahan/transparansi sedang (30 - 40 cm). Ukuran kualitas air secara kimia : - bebas senyawa beracun seperti amoniak - mempunyai suhu optimal (22 - 26 0C). Untuk menjaga kualitas air agar selalu dalam keadaan yang optimal, pemberian pupuk TON sangat diperlukan. TON yang mengandung unsur-unsur mineral penting, lemak, protein, karbohidrat dan asam humat mampu menumbuhkan dan menyuburkan pakan alami yang berupa plankton dan jenis cacing-cacingan, menetralkan senyawa beracun dan menciptakan ekosistem kolam yang seimbang. Perlakuan TON dilakukan pada saat oleh lahan dengan cara dilarutkan dan di siramkan pada permukaan tanah kolam serta pada waktu pemasukan air baru atau sekurang-kurangnya setiap 10 hari sekali. Dosis pemakaian TON adalah 25 g/100m2. VI. Manajemen Kesehatan. Pada dasarnya, anakan lele yang dipelihara tidak akan sakit jika mempunyai ketahanan tubuh yang tinggi. Anakan lele menjadi sakit lebih banyak disebabkan oleh kondisi lingkungan (air) yang jelek. Kondisi air yang jelek sangat mendorong tumbuhnya berbagai bibit penyakit baik yang berupa protozoa, jamur, bakteri dan lain-lain. Maka dalam menejemen kesehatan pembenihan lele, yang lebih penting dilakukan adalah penjagaan kondisi air dan pemberian nutrisi yang tinggi. Dalam kedua hal itulah, peranan TON dan POC NASA sangat besar. Namun apabila anakan lele terlanjur terserang penyakit, dianjurkan untuk melakukan pengobatan yang sesuai. Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh infeksi protozoa, bakteri dan jamur dapat diobati dengan formalin, larutan PK (Kalium Permanganat) atau garam dapur. Penggunaan obat tersebut haruslah hati-hati dan dosis yang digunakan juga harus sesuai.

Senin, 30 Januari 2012

TERNAK LELE dan SUKSES BESAR

Ternak Lele, rasanya bukan hal yang mustahil meraih sukses besar melalui usaha yang satu ini, banyak sudah orang-orang yang berhasil menikmati manisnya sukses dalam bisnis ternak atau budidaya lele, Sukses besar ini juga bisa jadi milik anda asal anda mau menjalaninya dengan semangat, sungguh-sungguh, sabar serta didukung oleh penerapan ilmu pengetahuan, teknologi ternak lele yang benar dan tujuan usaha yang jelas serta selalu mengiringi usaha dengan doa. Selain perawatannya yang terbilang mudah, ikan lele juga termasuk ikan yang memiliki adaptasi dan toleransi terhadap lingkungan yang cukup baik, apalagi kalau kita menguasai ilmu ternak lele yang benar, dijamin lele-lele itu akan cepat tumbuh besar dan sehat, belum lagi skala usahanya dapat anda sesuaikan, bisa dalam skala rumah tangga ataupun skala produksi dalam jumlah besar, sehingga modal dalam usaha ini bersifat relative dan dapat disesuaikan dengan kemampuan anda. Rasa lele yang gurih juga semakin banyak diminati masyarakat luas, ini terbukti dengan menjamurnya usaha-usaha kuliner yang menawarkan kelezatan ikan lele, mulai dari kuliner kelas pejalan kaki sampai resto papan ataspun sudah mulai menyajikan menu utama lele. Mengingat pangsa pasar lele yang terbuka lebar, baik dalam segmen pembesaran, pembenihan maupun pengadaan bibit lele, diharapkan ternak lele mampu membuka peluang usaha yang menguntungkan bagi masyarakat sehingga dapat meningkatkan taraf hidup sekaligus mampu mengurangi angka pengangguran yang semakin meningkat. Kebutuhan akan lele di wilayah Jabotabek saja diperkirakan sekitar 75 ton sehari, banyak pengusaha ternak lele yang sukses mengeluhkan sulitnya memenuhi kebutuhan tersebut dikarenakan kemampuan produksi lele yang masih terbatas, sehingga untuk anda yang baru akan memulai jangan bingung memikirkan pemasaran lele, pikirkan saja bagaimana caranya ternak lele yang benar sehingga berhasil dalam produksi dan dapat memenuhi kebutuhan pasar. Untuk anda yang tertarik dan ingin segera terdaftar dalam deretan pengusaha sukses dalam bidang ternak lele, banyak langkah yang bisa ditempuh, dengan mulai mengumpulkan informasi ternak lele sebanyak-banyaknya, baik dari internet maupun langsung mendatangi orang-orang yang sudah berkecimpung, perhatikan lingkungan sekitar anda, kalau ada tetangga yang sudah menjalankan usaha ternak lele, tidak ada salahnya anda berguru dengan orang yang terdekat, sambil terus memikirkan langkah besar selanjutnya. Biasanya Informasi terntang ternak lele beragam, mulai dari persiapan awal usaha (Modal), pemilihan bibit yang baik, penentuan lokasi dan wadah yang akan digunakan (bisa kolam tanah, bak semen atau dengan kolam terpal), tip & trik perawatan lele, pemilihan pakan, cara pemberian pakan, perawatan air & kolam, penanggulangan hama dan penyakit sampai persiapan saat panen dan pasca panen. Informasi diatas mungkin ini hanya sebagai contoh kecil, masih banyak informasi yang lebih lengkap dan jelas tentang pengembangan ternak lele yang bisa anda peroleh dari berbagai macam media, pengalaman individu atau kelompok yang bisa anda jadikan landasan dasar dalam memulai usaha ini, namun yang pasti, ternak lele menunggu anda dengan sukses besarnya, pikirkan langkah dan segera wujudkan kesuksesan anda.

Pembesaran Lele Sangkuriang

Seperti usaha ternak lele pada umumnya, pembesaran lele sangkuriang adalah segmen usaha yang mengkhususkan pembesaran lele hingga mencapai ukuran konsumsi. Ukuran lele konsumsi yang sudah banyak dikenal pada masyrakat kita berkisar antara 7 s/d 10 ekor perkilonya. Pada segmen pembesaran lele sangkuriang para peternak lele biasnya menggunakan benih 5/6, 7/8 atau 9/10 cm. Untuk sekarang ini sudah sangat sulit mendapatkan benih lele sangkuriang berukuran 7/8 & 9/10 cm, karena benih yang baru mencapai ukuran 5/6 cm saja biasanya sudah habis diserbu para pengusaha pembesaran lele sangkuriang, hal ini disebabkan semakin tingginya minat masyarakat terhadap lele sangkuriang. Ukuran benih yang digunakan sangat berpengaruh pada panen usaha pembesaran lele sangkuriang, semakin besar benih yang digunakan, maka masa panen akan semakin cepat. Benih lele sangkuriang yang ditebar dengan ukuran 5/6 memerlukan waktu 50 s/d 60 hari untuk mencapai masa panen, bahkan masa panen bisa dipercepat lagi dengan lebih sering memberikan pakan setiap harinya, tentunya dengan tata cara dan aturan yang benar. Hal lain yang sangat penting dalam usaha pembesaran lele sangkuriang adalah pembuatan kolam. Disarankan untuk membuat kolam terpal karena lebih mudah dan memiliki banyak keuntungan. Metode awal yang biasa digunakan dalam budidaya lele atau untuk para pengusaha ternak lele yang baru memulai disarankan membuat satu kolam berukuran 5 m x 2 m dengan kedalaman 125 cm s/d 130 cm, untuk ukuran kolam seperti ini biasanya menggunakan terpal berukuran 8 m x 5 m = 40 m2, mengingat volume air yang cukup banyak, sebaiknya tanah untuk kolam terpal digali sedalam 60 cm, jangan lupa untuk meratakan, menghaluskan, memadatkan tanah dasar kolam dan membuat kamalir pada dasar kolam. Selain berfungsi untuk menahan tekanan air, kolam yang berada di bawah permukaan tanah juga lebih menguntungkan karena lebih mudah untuk mengontrol ikan lele dalam kolam. Tanah hasil galian kolam digunakan untuk tanggul yang mengelilingi kolam, ketinggian tanggul + 40 cm, lebihkan tinggi kolam dari atas tanggul + 50 cm, sehingga total ketinggian kolam mencapai + 150 cm. Dinding kolam bisa dibuat dengan bambu atau menggunakan pasangan batako, tergantung modal yang dimiliki. Setelah proses pembuatan kolam pembesaran lele sangkuriang selesai langkah selanjutnya adalah mempersiapkan kolam tersebut agar bisa ditebar benih, untuk ukuran kolam 5 m x 2 m atau 10 m2 seperti keterangan di atas dapat menampung benih sebanyak 1000 s/d 1200 ekor, karena kisaran tebar yang ideal untuk lele adalah 100 s/d 120 ekor/m2. Kolam yang sudah tersedia diisi dengan air yang bersih dan memenuhi standart, jangan sampai air tercemar dengan zat-zat yang dapat membahayakan kelangsungan hidup ikan lele, isi air hingga mencapai ketinggian 50 cm. setelah itu wajib melakukan pengomposan menggunakan kotoran kambing yang langsung dari kandangnya, dengan takaran 1,5 kg/m2. Jadi untuk kolam berukuran 10 m2 memerlukan kotoran kambing sebanyak 15 kg, kotoran kambing tersebut dibagi menjadi dua karung, ikat rapat lalu masukkan kedalam kolam, biarkan karung yang berisi kotoran kambing tersebut mengapung ke seluruh penjuru kolam. Setelah itu pada air kolam diberikan larutan /cairan yang dapat memperbaiki kualitas air dan menjaga kestabilan PH air, sebaiknya gunakan larutan yang telah teruji dan terpercaya yang telah banyak digunakan oleh para pengusaha budidaya lele serta mengikuti anjuran pakai. Dianjurkan juga untuk para pembudidaya lele sebaiknya memiliki alat pengukur PH air, jika PH air kolam sudah memenuhi syarat untuk ikan lele, baru penebaran benih atau bibit lele boleh dilakukan, pengomposan dan pemberian larutan ini hanya dilakukan sekali pada setiap proses persiapan kolam pembesaran lele sangkuriang. Setelah memasuki hari kedelapan, karung yang berisi kotoran kambing sudah boleh diangkat, injak-injak karung atau dicelup-celupkan sebelum diangkat agar kandungan zat-zat yang berguna untuk kesehatan air kolam dan lele lebih banyak keluar dan menyebar. Kotoran kambing dalam karung yang telah diangkat bisa digunakan untuk memupuk tanaman. Kualitas benih yang akan ditebar sangat mempengaruhi hasil produksi, maka dari itu pemilihan benih haruslah selektif, usahakan mengambil benih dari tempat-tempat yang sudah terpercaya kredibilitasnya sebagai pembenih lele sangkuriang. Tebarkan benih sesuai dengan kisaran tebar yang ideal, penebaran benih sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari. Tata cara pemberian pakan dalam pembesaran lele sangkuriang diberikan 5 s/d 6 kali setiap hari, dengan catatan pemberian pakan harus diberi jarak, + 2 s/d 3 jam, pemberian pakan pertama dimulai pada jam 9 pagi, hindarkan memberi pakan sebelum jam 9 pagi, karena jika terlalu pagi permukaan kolam yang masih tercemar belum terjemur dengan sinar matahari akan bercampur dengan pakan yang kita berikan sehingga akan berakibat buruk pada ikan lele, ingat, mencegah lebih baik dari pada mengobati. Jika para pengusaha pembesaran lele sangkuriang ingin menggunakan pelet murni dalam metode pengaturan pakannya maka komposisi yang baik adalah, pelet apung sebanyak 30 % dan pelet tenggelam 70 %, jika ingin diselingi dengan pakan tambahan maka jatah pelet tenggelam yang harus dikurangi. Misalnya jika ingin memberikan pakan tambahan ayam tiren atau ikan runcah atau yang lainnya sebanyak 50 %, maka pemberian pelet tenggelam hanya tinggal 20 % saja, takaran pelet apung tidak boleh dikurangi yaitu 30 %. Sebagai gambaran, jika kita menggunakan pelet adalah ; pelet tahap 1 untuk benih 5/6 atau 7/8 = 3 kg, pelet tahap 2 = 5 kg, pelet tahap 3 = 22 kg dan Pelet Tenggelam = 70 kg jadi total penggunaan pelet adalah 100 % atau 100 kg adalah untuk pemberian pakan benih lele 1000 ekor dan biasanya akan memanen hasil 1 kuintal atau lebih lele konsumsi. Jika ingin hasil yang lebih baik lagi silahkan menambah beberapa kilogram jumlah pakan yang diberikan. Dalam pembesaran lele sangkuriang setiap pakan yang diberikan akan berpengaruh pada bertambahnya berat ikan, sehingga tidak ada pakan yang terbuang percuma selama mengikuti aturan pemberian pakan yang benar. Satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya dalam proses pembesaran lele sangkuriang adalah pengaturan ketinggian air, patokan ketinggian air dalam pembesaran lele sangkuriang adalah pakan, seperti kita ketahui sebelumnya, pada tahap awal pengisian air ketinggiannya adalah 50 cm, jika pelet tahap 1 telah habis maka tinggi air harus ditambah 20 cm hingga menjadi 70 cm, lakukan pengisian dengan air baru tanpa pengomposan, penambahan air berikutnya jika pakan pelet tahap 2 telah habis tambah ketinggian air 20 cm lagi sehingga menjadi 90 cm, ketinggian air tidak ditambah sampai pakan pelet tahap 3 habis, selanjutnya jika pelet tahap 3 telah habis baru ketinggian air ditambah lagi 30 cm sehingga menjadi 120 cm, ketinggian air tetap 120 cm sampai pada saat panen. Estimasi diatas adalah contoh standart, jika memiliki modal yang lebih besar dan telah mengusai teknik dan teknologi pembesaran lele sangkuriang silahkan mencoba pada skala yang lebih besar lagi, selamat mencoba dan sukses selalu untuk semua.

Pembenihan Lele Sangkuriang

Segmen pembenihan lele sangkuriang adalah usaha ternak lele sangkuriang yang berorientasi pada pengadaan benih lele sangkuriang, dalam hal ini para peternak melakukan kegiatan perawatan induk, pemijahan, penetasan dan pemeliharaan benih lele yang baru menetas hingga benih mencapai ukuran yang biasa digunakan untuk segmen pembesaran yaitu 5/6 cm atau 7/8 cm. Kebutuhan kolam pembenihan lele sangkuriang memerlukan lahan yang cukup luas, disarankan untuk menggunakan kolam terpal, selain lebih mudah dan hemat, penggunaan kolam terpal juga bisa meminimalisasi hama yang biasanya banyak terdapat pada kolam tanah, kolam terdiri dari : ~ Kolam perawatan induk yang berukuran + 5 m x 3 m dengan ketinggian sekitar 1,5 meter. ~ Kolam pemijahan ukurannya + 4 m x 2 m dengan ketinggian sekitar 1 meter. ~ Kolam penetasan dan pemeliharaan benih ukurannya + 6 m x 3 m dengan ketinggian sekitar 50 cm sebanyak 10 kolam. Kolam indukan untuk pembenihan lele sangkuriang dengan ukuran seperti diatas biasanya bisa menampung hingga tiga paket indukan, satu paket indukan biasanya berisi 15 atau 16 ekor, terdiri dari 5 atau 6 ekor jantan dan 10 ekor betina. indukan atau bibit lele sangkuriang sebaiknya dibeli dari tempat-tempat yang jelas dan terpercaya sebagai tempat budidaya lele sangkuriang. Sebelum membeli indukan lele sangkuriang langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyiapkan kolam perawatan induk, dengan ukuran kolam seperti diatas pengisian air kolam kurang lebih 120 cm. Lakukan pengomposan agar kualitas air kolam menjadi baik dan memenuhi standart sehingga indukan-indukan lele dapat hidup dengan sehat dan memiliki kondisi yang baik untuk melakukan proses pemijahan. Pengomposan yang baik biasanya akan menjadikan air berwarna hijau pekat karena mengandung mikroorganisme dan zat-zat yang baik untuk ikan, lama proses pengomposan kurang lebih 10 hari, setelah itu baru indukan lele sangkuriang bisa dimasukan ke dalam kolam. Dalam metode pembenihan lele sangkuriang, indukan lele jantan dan betina tidak dipisahkan, semua indukan lele dimasukan dalam satu kolam, berdasarkan pengalaman di lapangan, dikarenakan warna air kolam yang tidak jernih (Berwarna Hijau Pekat) maka biasanya indukan lele tidak akan melakukan pemijahan liar. Perawatan indukan merupakan faktor yang penting dalam usaha pembenihan lele sangkuriang, indukan lele sangkuriang sebaiknya diberikan pakan pelet hanya satu kali sehari, sangat dianjurkan memberikan pakan pada jam 20.00 malam hari, namun harus dipastikan bahwa semua indukan lele dapat makan dengan kenyang. Berikan pakan yang berprotein tinggi agar kualitas telur semakin baik, jika ingin memberikan pakan tambahan (contoh : ayam tiren yang direbus) cukup satu minggu sekali, jika terlalu sering dikhawatirkan akan membuat indukan kelebihan lemak sehingga mengganggu produktifitas telur. Langkah selanjutnya adalah membuat kakaban dan menyiapkan kolam pemijahan, dalam pembenihan lele sangkuriang setiap kakaban yang digunakan berukuran panjang 1,5 m dan lebar 40 cm, buat 18 kakaban menggunakan ijuk dan bambu sebagai penjepit. Setelah itu isi kolam pemijahan dengan air bersih setinggi 25 cm s/d 30 cm, Masukan 18 kakaban yang sudah disiapkan ke dalam kolam pemijahan, pastikan kakaban dalam kondisi bersih, usahakan dasar kolam tertutup rapat dengan kakaban, jika kakaban mengapung, gunakan batu kali yang tidak tajam agar tidak melukai indukan, batu kali digunakan untuk menahan kakaban agar tenggelam, pastikan batu yang digunakan sebagai penahan tenggelam 10 cm dibawah permukaan air. Para pelaku usaha pembenihan lele sangkuriang harus memahami dalam hal memilih induk yang sehat dan telah siap untuk memijah, indukan jantan yang siap memijah biasanya alat kelaminnya terlihat memanjang dan berwarna kemerahan, jika diusap pada bagian sirip atas, dari depan ke arah ekor, maka sirip atas akan berdiri, ini menandakan indukan jantan sedang birahi. Indukan betina yang siap memijah memiliki ciri perut yang besar dan lembek, alat kelamin tampak bulat dan membesar berwarna kemerahan. Perbandingan yang ideal untuk satu kali pemijahan adalah 3 ekor induk jantan dan 4 ekor induk betina, masukan indukan yang telah dipilih ke dalam kolam pemijahan yang telah disiapkan. Pemijahan yang baik biasanya dilakukan pada sore hari, proses pemindahan indukan dari kolam indukan ke kolam pemijahan dilakukan per-ekor dan harus dilakukan dengan hati-hati, jangan sampai melukai indukan atau membuat indukan menjadi stress. Indukan lele sangkuriang biasanya memijah pada malam hari, sehingga keesokan pagi biasanya telur lele sangkuriang yang sudah dibuahi akan terlihat memenuhi kakaban. Langkah selanjutnya adalah memindahkan kakaban ke dalam kolam penetasan. Proses ini dilakukan pada sore hari, pindahkan kakaban yang telah berisi telur ke dalam kolam penetasan yang telah disiapkan satu hari sebelum proses pemindahan kakaban, dari 10 kolam penetasan gunakan 6 kolam, masing-masing diisi 3 kakaban/kolam (18 kakaban). Kolam penetasan dibersihkan dan diisi dengan air bersih setinggi 20 cm untuk daerah yang bersuhu panas dan 15 cm untuk daerah yang lebih dingin, berikan larutan atau cairan yang dapat meningkatkan kualitas air dan menjaga kestabilan PH air pada setiap kolam penetasan agar kualitas air menjadi baik dan memenuhi persyaratan untuk proses pembenihan lele sangkuriang, untuk mengetahui kualitas air sebaiknya menggunakan alat pengukur PH air. Pada 4 kolam penetasan yang masih tersisa lakukan pengomposan pada 3 kolam, agar nanti bisa digunakan untuk tempat benih lele pada saat proses penyortiran. 1 kolam yang tersisa tidak perlu dikompos, gunanya untuk mengumpulkan seluruh kakaban yang akan diangkat pada hari ke 13. Setelah semua kakaban dari kolam pemijahan telah dipindahkan ke dalam kolam penetasan, maka semua indukan yang telah memijah harus dikembalikan ke dalam kolam indukan sore itu juga, pindahkan indukan dengan hati-hati, biasanya indukan lele akan beristirahat dan akan kembali bereproduksi setelah satu bulan jika dirawat dengan baik dan benar. Keesokan paginya biasanya telur-telur lele sangkuriang mulai menetas, benih-benih lele yang baru menetas tidak memerlukan makanan sampai pada hari ke empat, karena mereka masih memiliki cadangan makanan yang dibawa dari lahir, pada hari ke empat barulah benih-benih lele tersebut diberikan pakan alami berupa cacing sutera yang masih hidup. letakkan tumpukan cacing sutera yang dibagi menjadi 9 tumpukan kecil-kecil di dasar kolam pada sudut yang berbeda-beda agar seluruh benih rata mendapatkan makanan, pengontrolan cacing sutera sangat penting dan harus diperhatikan oleh para pembudidaya pembenihan lele sangkuriang, jika habis tambahkan, begitu seterusnya sampai benih berumur 13 hari. Pada saat benih lele sangkuriang berumur 13 hari, seluruh kakaban dari kolam penetasan boleh dipindahkan kedalam kolam yang sudah tersedia. Lakukan pemindahan kakaban dengan sangat hati-hati, sebaiknya kakaban dicelup-celupkan dulu dengan perlahan agar benih lele yang menempel terlepas. Setelah berumur 13 hari pemberian cacing sutera dihentikan lalu diganti dengan pelet tepung (Pakan udang). Pemberian pelet tepung dilakukan sedikit-sedikit agar benih terbiasa, berikan 6 kali setiap hari, pemberian pelet tepung dihentikan jika sudah menghabiskan 5 kantong. Setelah itu pakan diganti dengan pelet yang ukurannya lebih besar (sesuaikan dengan ukuran ikan), cara pemberian pakan dan banyaknya sama, yaitu sampai menghabiskan 5 kantong, setelah benih berumur 20 hari para pembenih lele sangkuriang biasanya melakukan penyortiran. Proses penyortiran pada usaha pembenihan lele sangkuriang menggunakan 3 jenis baskom sortir, baskom untuk ukuran benih 2/3 cm, baskom untuk ukuran benih 3/4 cm & baskom untuk ukuran benih 5/6 cm, pada penyortiran tahap pertama ini biasanya akan ditemukan 4 jenis ukuran : ~ Ukuran pertama adalah yang paling kecil, ukuran ini adalah benih yang lolos dari baskom 2/3 cm, masukan kembali benih lele ukuran paling kecil ini ke kolamnya semula dan berikan lagi pakan pelet tepung. ~ Ukuran yang kedua adalah ukuran 2/3 cm, masukan benih ukuran 2/3 cm ini kedalam salah satu dari 3 kolam yang sudah tersedia yaitu, kolam yang sudah dikompos sebelumnya. Untuk benih ukuran ini pelet yang diberikan disesuaikan dengan ukuran ikan , sesekali boleh juga diselingi dengan pelet tepung. ~ Ukuran yang ketiga adalah ukuran 3/4 cm, masukan benih ukuran 3/4 cm ini kedalam salah satu dari 2 kolam yang tersisa. jenis pelet yang diberikan bisa disesuaikan dengan ukuran benih lele. ~ Ukuran benih yang keempat adalah ukuran 4/6 cm atau lebih, namun biasanya jumlahnya belum banyak, masukan benih ukuran ini kedalam kolam terakhir. Benih ukuran ini sudah boleh diberikan pakan pelet yang lebih besar. Benih-benih lele yang sudah ditempatkan dalam kolam yang sesuai dengan ukurannya harus dirawat dengan baik, perhatikan kualitas air dan hama-hama pengganggu yang mungkin saja muncul dan dapat mengganggu kelangsungan hidup benih-benih lele tersebut, berikan pakan sesuai aturan yang telah ditentukan. Satu minggu kemudian atau setelah benih lele berumur 27 hari, lakukan penyortiran tahap dua, pada penyortiran yang kedua ini biasanya benih lele dengan ukuran 5/6 cm sudah mulai banyak, para pengusaha pembenihan lele sangkuriang sudah bisa menjual benih lele tersebut kepada para peternak lele yang bergerak pada segmen pembesaran, namun jika masih ingin membesarkan benih sampai ukuran yang lebih besar lagi, lakukan tahap-tahap seperti sebelumnya.